"Sebaik-baik kamu adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." dan "Sebaik-baik kamu adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (Al-Hadits)

Minggu, 20 November 2011

MMB Home Fun 1

"..."
Modernisme, adalah paham yang dianut oleh sebagian besar masyarakat sekarang ini, terutama anak muda. Aku ga habis pikir, kenapa para pemuda jaman sekarang ini hanya memanfaatkan waktu-waktu mereka dengan hanya pergi ke mall, nongkrong ga jelas, berduaan malam minggu, dan jalan-jalan. Sementara ada banyak orang disekitar mereka yang punya kondisi yang bertolak belakang dengan mereka. Tukang ojek yang bekerja dari pagi sampai dini hari berikutnya untuk mencari penghidupan dan belum tentu mendapat hasil yang diharapkan. Pak sopir angkot yang hampir bekerja 24 jam. Begitu juga dengan satpam. Anak-anak yang seharusnya sekolah, malah pada ngamen di perempatan lampu lalu lintas. Bapak ibu yang mencari rezeki mereka dalam setiap tempat sampah. Aku pun merasa, apa kontribusi yang sudah aku lakukan untuk masyarakat sekitarku?? Aku sedang menjalani masa kuliah, kira-kira apa yang bisa aku lakukan terhadap kondisi yang seperti ini?? Banyak bahasan di seminar-seminar, talkshow dan sebagainya yang membahas peran pemuda untuk membangun bangsa ini. Dari sekian banyak ilmu yang pernah aku dapat, aku lebih tertarik untuk meningkatkan kesejahteraan umat ini, bahkan keluarga ku sendiri saja bisa aku bilang belum mencapai standard kesejahteraan.
Aku mempunyai harapan dapat memperbaiki sistem dan proses pendidikan di Indonesia ini. Akhirnya, saat aku masih tingkat satu, aku mengikuti suatu organisasi, perkumpulan anak-anak muda yang diinisiasi oleh seorang mantan mahasiswa ITB, Rendy Saputra. Kang Rendy, begitulah sapaan akrabnya, membentuk sebuah wadah agar para anak muda ini punya ‘kesibukan’ yang lebih bermanfaat, yaitu Darusy Syabab. Aku bergabung dengan Darusy Syabab sejak saat itu. Oke lah, singkatnya, setelah 2 tahun keberjalanan Darusy Syabab, banyak ilmu-ilmu yang aku dapat dari sini. Selain megikuti mentoring dari Gamais, aku memberi makan ruhiyah dan pikiranku di sini. Mindsetku tentang dunia bisnis dan enterpreneur aku dapat dari Kang Rendy. Aku pun tertarik untuk memulai suatu bisnis untuk mencapai harapanku. Karena aku pikir untuk memperbaiki sistem pendidikan ga akan mudah dan pasti membutuhkan dana yang besar.
Rendy Saputra akhirnya membuka suatu pelatihan khusus untuk anggota Darusy Syabab. Pelatihan tentang bisnis. Kang Rendy membuat pelatihan ini sebagai ganti pelatihan yang pernah dia buat sebelumnya, yaitu ECP (Enterpreneurship Coaching Programme). Konsep yang dia bawa di ECP, dia akui salah dan sesat (wooh, ngeri amat). Makanya kang Rendy membuka program pelatihan bisnis baru dengan konsep baru, murni tanpa riba’, yaitu Madrasah Mujahid Bisnis (MMB). MMB diadakan sebanyak 7 kali pertemuan setiap senin malam jam 19.30 (tepat) – 21.30 WIB. Sistem pendaftarannya adalah donasi, dan peserta yang lolos diambil 50 orang dengan donasi tertinggi. Sesuai dengan namanya program ini seperti halnya Madrasah. Ada murid dan Kyai. Nah, karena kang Rendy yang menyampaikan ilmu, makanya saat MMB berlangsung dia dipanggil ‘Kyai Rendy’. MMB ini mempunyai sistem diskualifikasi peserta jika peserta telat datang, walau sedetik, dan ada Home Fun (sama aja semacam Home work). Home Fun ini adalah syarat untuk mengikuti pertemuan MMB berikutnya. Pertemuan pertama masih berupa pengantar, dan belum ada Home Fun yang diberikan. Baru, setelah pertemuan kedua, Home Fun diberikan. Home Fun yang diberikan terkait materi yang telah disampaikan Kyai Rendy Saputra tentang rumus memulai bisnis pada pertemuan pertama, dan hubungannya dengan materi pertemuan kedua tentang penyebab Kenistaan Manusia, yaitu keadaan ‘Under Earning’.
Manusia bisa memasuki jurang kenistaan dalam hidup disebabkan oleh 3 hal, yaitu Self dismanagement, Under earning dan Unexpected event. Fokus pembahasan MMB adalah kondisi Under earning dan sedikit tentang unexpected event.
Dissatisfaction (ketidaknyamanan) yang aku rasakan jika aku dalam keadaan under earning itu banyak. Pasti lah, apalagi jaman sekarang ini. Akan timbul keresahan untuk mencukupi kebutuhan utamanya, masih mahasiswa lagi kan? Tatkala awal bulan, oke lah ya, uang bulanan baru masuk. Tapi saat sudah tengah bulan kedua, muncullah itu perasaan-perasaan khawatir akan kebutuhan. Entah makan, ngeprint, pulsa, sabun dan segala macemnya tentang kebutuhan kuliah. Hal lain yang membuatku merasa bahwa ketidaknyamanan under earning ini berdampak adalah tatkala aku tidak bisa membantu orang untuk menyalesaikan problem mereka terutama problem yang berkaiatan dengan keuangan. Saat saudaraku bilang, “wah, aku lagi kesulitan dana nih, jadi ga bisa ikut Daurah.” Atau ,”ya Allaah, tinggal berapa uang simpananku, padahal baru pertengahan bulan.” Ingin sekali rasanya membantu mereka. Memberikan sedikit rezeki yang aku punya untuk membantu mereka. Tapi akhirnya ga bisa juga karena uangku sendiri hanya cukup untuk kebutuhan bulan itu, pas. Terkadang perasaan sedih muncul, kenapa aku ga percaya bahwa Allah telah menjamin rezekiku?? Inilah hal yang paling mengganggu jika dalam keadaan pas-pasan, bahkan kekurangan dalam keuangan.
Prasangka yang buruk terhadap Dzat Yang Memberi. Kekhawatiran akan kehidupan. Dan keragu-raguan yang melingkupi dalam setiap aktivitas. Pantaslah jika Rasulullah bersabda bahwa sesungguhnya kefakiran itu dekat pada kekufuran. Akupun nampaknya sudah merasakan hal itu. Sekarang ini, aku lebih fokus pada amanahku sebagai pengajar dan kegiatan yang bisa setidaknya memberikan jaminan tambahan dana untuk hidup tiap bulan. Meski sudah menerima uang bulanan dari beasiswa yang aku terima, entah kenapa aku merasa bahwa kebutuhanku masih lebih banyak daripada uang yang aku punya. Kemungkinan besar, inilah juga yang menyebabkan seseorang itu lebih loyal dan komitmen dalam bekerja, apalagi jika ia sudah berkeluarga. Ada tuntutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, di samping kebutuhan dirinya.
Mengapa aku ingin menjadi seorang pebisnis, Mujahid Bisnis tepatnya?? Sebenarnya ada beberapa alasan kenapa aku ingin berbisnis. Salah satunya karena terinspirasi oleh ayat al-Qur’an Q.S. Ash-Shaf: 10-11.
Ash-Shaf 10.pngAsh-Shaf 11.png
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk melakukan jihad, yaitu dengan harta dan jiwa. Menurut pemahaman yang aku dapat, berarti jihad dengan harta dan jihad dengan jiwa ini sejajar. Memang pada jaman Rasulullah dahulu, saat akan melakukan peperangan, Rasul selalu mengumpulkan dana dari para sahabatnya. Abu Bakar memberikan seluruh hartanya, sampai Rasul berkata, “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu ya Abu Bakar?”. Abu Bakar menjawab, “Cukup Allah dan Rasul-Nya bagi keluargaku.” Umar, memberikan setengah harta yang ia miliki, sedangkan Utsman memberikan beberapa ratus ekor unta lengkap dengan persenjataan dan bekal pada tiap unta. Dan lagi, saat akan perang (lupa antara perang Tabuk apa  perang Hunain), shahabat Abdur Rahman bin ‘Auf memberikan kurang lebih 700 ekor unta lengkap dengan bekal dan persenjataannya. Bisa kita bayangkan berapa banyak harta yang dikeluarkan para shahabat Rasul untuk digunakan dalam perang jihad fii sabilillaah. Unta sekarang ini hampir bernilai (bilanglah) 20 jutaan, maka sumbangan yang diberikan Abdur Rahman bin ‘Auf adalah sekitar 14 Milyar, belum terhitung bekal dan persenjataan yang diberikan. Belum lagi shahabat-shahabat yang lain. Sungguh luar biasa. Rasul dan shahabatnya berlimpah kawan.
Sosok-sosok seperti inilah yang menginspirasiku untuk menjadi seorang pebisnis handal seperti halnya mereka. Selain mempunyai aqidah yang kuat, karakter diri yang khas dan akhlak yang sangat baik, mereka juga memiliki skill bisnisman, kepekaan dan kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan. Bahkan Umar RA sampai mengatakan, “Diantara dua orang muslim, tidak akan merasakan ukhuwah di antara mereka sebelum mereka: berdagang (berbisnis) bersama, menginap bersama dan melakukan perjalanan jauh bersama.” Berdagang bersama adalah salah satu parameter untuk menentukan seberapa kuat ukhuwah sesama muslim menurut Umar.
Di daerahku bisa dibilang pemudanya lumayan, namun sedikit yang melanjutkan pendidikan sampai ke bangku kuliah. Kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk mangambil kerja, terutama di kota besar seperti Surabaya, Jakarta dan lain-lain. Aku pun melihat lumayan banyak anak yang disekolahkan di sekolah swasta oleh orang tuanya karena hanya kendala biaya operasional sekolah. Sebagian besar penduduk di daerahku adalah petani dan pegawai bangunan, yang notabene bekerja hanya saat ada order datang. Dari keadaan yang seperti ini di daerahku sendiri, aku jadi terpikir, bagaimana ya caraku untuk memberikan manfa’at kepada lingkungan sekitarku, ya setidaknya menyejahterakan masyarakat lingkunganku?? Sebagian anak-anak pun baru merasakan pendidikan komputer pada saat mereka memasuki bangku sekolah menengah. Ya Alhamdulillaah, sudah ada mata pelajaran komputer untuk anak-anak di Madrasah Diniyyah yang didirikan oleh salah satu ustadzku. Namun, aku merasa itu belumlah cukup. Aku ingin membuat suatu kursus komputer untuk anak-anak kurang mampu di daerahku. Aku belum melihat adanya kursus komputer di daerahku. Kursus komputer ini sekalian ingin aku jadikan usaha warnet, karena warnet belum ada di desaku. Butuh berjalan sejauh kurang lebih 8 km untuk mendapatkan akses internet.
Orang tua, kakak dan saudaraku memberikan dukungan saat aku mendapatkan beasiswa ke ITB. Aku belum meminta izin kepada orang tuaku secara langsung untuk melakukan bisnis, tapi aku percaya, orang tua dan saudaraku serta orang-orang terdekatku akan memberikan support untuk itu. Selama kuliah di ITB, banyak sekali motivasi terkait enterpreneurship yang aku dapat. Pun salah satu usaha yang aku lakukan untuk langkah awalku adalah mengikuti Madrasah Mujahid Bisnis (MMB) angkatan pertama. Inilah yang menjadi ‘strong way’ bagiku.
Selain harapan dan keinginan-keinginan yang aku punyai, aku juga mempunyai sebuah visi dalam hidup ini, menjadi sebaik-baik manusia, yaitu dapat menjadi seseorang yang memberikan manfaat bagi manusia dan juga mampu memberikan pengajaran al-Qur’an kepada siapa pun. Aku mengambil visi hidupku dari hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya."
(HR. Bukhari)
Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Bukhari)
Visi tersebut akan aku wujudkan dengan membangun suatu Yayasan Islam yang di dalamnya ada pendidikan dari tingkat ibtida’ (awal) hingga universitas. Aku ingin membentuk Yayasan karena Yayasan dapat menentukan kebijakan-kebijakan di dalam sistem Yayasan. Yayasan dapat mengontrol kurikulum pembinaan yang diinginkan. Yayasan ini nantinya juga ada fasilitas-fasilitas layaknya lembaga pendidikan formal yang berkelas. Selain itu, Yayasan tersebut juga mempunyai asrama untuk pembinaan para murid yang bertempat tinggal di asrama. Yayasan ini bukan hanya memberikan pendidikan dalam bidang Agama, tetapi juga pendidikan teknologi dan keprofesian. Yayasan ini aku harapkan bisa memberikan dampak yang besar terutama di lingkungan sekitar rumahku, baik dari segi keilmuan dan kesejahteraan masyarakat setempat. Nah, untuk menuju visi tersebut perlu adanya langkah-langkah persiapan, mulai dari segi konsep pendidikan hingga dana yang dibutuhkan dengan sistem perputarannya. Dari visi yang aku impikan itu, tentu membutuhkan sumber dana tetap dan dana operasional yang besar. Di samping itu, mengelola Yayasan bukan hal yang mudah dan bisa dilakukan sendirian. Butuh orang-orang yang bisa dipercaya dalam memegang amanah dan mempunyai komitmen untuk menjalankan amanah yang dilimpahkan padanya. Harapanku mengikuti MMB ini agar mempunyai bekal yang nantinya dapat aku gunakan untuk membentuk Yayasan itu. Oleh karena itu, aku  berharap bisa lulus dari MMB dengan menghasilkan salah satu dari tujuan MMB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar