"Sebaik-baik kamu adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." dan "Sebaik-baik kamu adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (Al-Hadits)
Tampilkan postingan dengan label GAMAIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GAMAIS. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Agustus 2010

Ma'na Da'wah - Da'watun Minadh Dhulumaatil Jaahiliyyaati Ilan Nuuri

Pada akhirnya tujuan dari dakwah adalah mentransformasikan masyarakat yang jahiliyah (dalam hal ini belum tersirami oleh nilai Islam secara utuh) menuju masyarakat yang telah tercerahkan oleh cahaya Islam. Masyarakat seperti ini seringkali disebut sebagai masyarakat madani. Berbicara tentang masyarakat madani, akan merujuk pada tulisan KH.Mas’oed Abidin dalam tulisannya “implementasi adat basandi syarak , syarak basandi di kitabullah”, beliau menuliskan , Madani mengandung kata maddana al-madaina artinya, banaa-ha yakni membangun atau hadhdhara yaitu memperadabkan dan tamaddana artinya menjadi beradab-yang nampak dalam kehidupan masyarakatnya berilmu (rasional) memiliki rasa (emosional) secara individu maupun secara kelompok serta memiliki kemandirian (kedaulatan/harga diri) dalam tata ruang dan peraturan-peraturan yang saling berkaitan.

Merujuk pada refrensi lain, pada tulisannya menuju masyarakat madani, Cendikiawan Muslim Nurcholish Madjid mengatakan ,

Ma'na Da'wah - Da'watun Hatta Yakfuruu Bit Thooghuuti Wa Yu'min Billahi

Tujuan dari dakwah adalah bagaimana agar manusia meninggalkan thagut atau syirik dan beriman kepada Allah. Thagut pada zaman jahiliyah dikenal dengan hubal, latta, uzza’. Mereka adalah spiritualis pada zamannya dan dibuatkan patung oleh masyarakat mekkah sebagai media untuk berdo’a kepada Tuhan mereka, dan ketika futuh mekkah, salah satu simbol penaklukan adalah dengan merusak patung patung tersebut, dan menjadi simbol kemenangan aqidah bagi masyarakat kota Mekkah. Jelas dalam masa kenabian Muhammad, proses dakwah adalah membuat masyarakat jahiliyah meninggalkan Tuhan selain Allah azza wa jalla.

Allah berfimran dan dua ayatnya, 
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak jadikan seorang khalifah di muka bumi." (Al-Baqarah 30).
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (Adz-Dzariat 5).
Pada kedua ayat diatas, jelas Allah menegaskan bahwa tiada Tuhan selain Allah,

Ma'na Da'wah - Da'watun Bil Maw'idhotil Hasanah

Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya, dan nasihat adalah semahal-mahalnya pemberian. Akan tetapi nasihat adalah sesuatu yang paling sulit bila hendak dilakukan. Karena, kebenaran itu pahit; menjelaskan kesalahan itu membuka kekurangan, sementara diri manusia itu suka menentang, dan manusia sangat cinta kepada dirinya. Sehingga, dalam pandangan saya, suatu nasihat akan mendatangkan hasil sebaliknya jika kita tidak menyampaikannya dengan cara yang baik

Dakwah dengan cara yang baik dan sebaik-baiknya. Allah sudah menurunkan value dan content dakwah kita dengan jelas dan tegas sudah Allah turunkan dalam Al Qur’an dan Hadis. Tinggal bagaimana cara kita saja sebagai aktifis dakwah kampus membahasakannnya dengan cara yang tepat dan media yang tepat pula. Karena metode yang tepat akan mempercepat proses penyampaian hidayah, dan metode yang kurang pas bahkan bisa berdampak kontraproduktif bagi dakwah yang dilakukan.

Ma'na Da'wah - Da'watun Bil Hikmah

Dakwah bil Hikmah yakni menyampaikan dakwah dengan cara yang arif bijaksana, yaitu melakukan pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik. Dengan kata lain dakwah bil hikmah merupakan suatu metode pendekatan komunikasi dakwah yang dilakukan atas dasar persuasif. Ini merupakan sebuah konsep dakwah yang Allah siapkan dan rekayasakan kepada Muhammad Rasulullah.

Bila kita menilik kembali ke sirah nabawiyah, Muhammad kecil sudah disiapkan dengan berbagai tempaan yang membuat dirinya matang dan bijaksana. Dimulai sejak beliau kehilangan orang tuanya, dimana beliau sudah di siapkan oleh Allah agar mandiri. Lalu beliau membantu pamannya berdagang di usia muda yang membuat beliau cakap dan mampu berkomunikasi dengan baik dengan sesama, serta memberikan citra bahwa Nabi Muhammad adalah memang seorang yang bisa di percaya. Hingga pada akhirnya,

Ma'na Da'wah - Da'watun Ilallah

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (Ali Imran : 104)

Islam mengajarkan kepada kita untuk berdakwah atau menyerukan nilai Islam dengan satu prinsip utama, yakni tauhid. Mengajak objek dakwah untuk beriman kepada Allah adalah tujuan seorang aktifis dakwah kampus melakukan semua kegiatannya. Ia mengajak untuk meyakini bahwa Allah pemilik semesta alam, Allah lah yang mengatur masa depan dan Allah pula yang memberikan nikmat maupun azab. Hanya karena Allah semua aktifitas manusia dimudahkan.


Cara pandang ini harus melekat pada setiap aktifis dakwah kampus. Karena dengan cara pandang inilah seorang aktifis dakwah akan memiliki energi lebih dalam melakukan aktifitasnya. Karena semuanya tiada arti tanpa Cinta-Nya. Bukan dengan membangun cara pandang bahwa dakwah itu untuk Lembaga Dakwah, atau agar sebanyak-banyaknya mahasiswa yang mengikuti mentoring, atau agar citra lembaga dakwah meningkat.


Ma'na Da'wah - Da'watun Naas


Dakwah kepada manusia. Kita perlu berkomunikasi kembali kepada diri kita sebelum kita memulai sebuah dakwah. Sejatinya kita adalah seorang manusia yang mempunyai perasaan dan tentu berkomunikasi dengan perasaan kita sendiri adalah hal tidak terlalu sulit dilakukan. Cobalah bertanya sebuah pertanyaan sederhana “apa yang saya rasakan ketika bertemu dengan orang seperti saya “. Dakwah kepada manusia merupakan suatu keunikan tersendiri. Karena pada hakikatnya manusia itu berbeda-beda dan memiliki taste dan preference yang berbeda setiap orangnya.


Jika bahasakan dalam konteks dakwah, maka, bisa jadi setiap manusia memiliki cara untuk dakwah dan di dakwahi sendiri. Setiap manusia memiliki kekhasan, dan pintu masuk hidayah yang berbeda.

Bisa jadi kita menemui seseorang yang terbuka hidayahnya ketika sedang mentafakurri alam

Bisa jadi kita menemui seorang muslimah berniat untuk pakai jilbab karena didengarkan sebuha ayat

Bisa jadi seseorang menjadi rajin Shalat karena nikmat yang hadir tanpa disangka