Dakwah bil Hikmah yakni menyampaikan dakwah dengan cara yang arif bijaksana, yaitu melakukan pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik. Dengan kata lain dakwah bil hikmah merupakan suatu metode pendekatan komunikasi dakwah yang dilakukan atas dasar persuasif. Ini merupakan sebuah konsep dakwah yang Allah siapkan dan rekayasakan kepada Muhammad Rasulullah.
Bila kita menilik kembali ke sirah nabawiyah, Muhammad kecil sudah disiapkan dengan berbagai tempaan yang membuat dirinya matang dan bijaksana. Dimulai sejak beliau kehilangan orang tuanya, dimana beliau sudah di siapkan oleh Allah agar mandiri. Lalu beliau membantu pamannya berdagang di usia muda yang membuat beliau cakap dan mampu berkomunikasi dengan baik dengan sesama, serta memberikan citra bahwa Nabi Muhammad adalah memang seorang yang bisa di percaya. Hingga pada akhirnya,
di usia yang masih muda. Nabi Muhammad sudah diberikan gelar al amin oleh kaum quraisy mekkah. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Al Ahzab ayat 21:
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."
Allah menyiapkan Rasul terakhirnya untuk bisa di jadikan teladan ekstrem , atau teladan dengan sebaik-baiknya teladan. Dijauhkan dari segala hal yang bisa merusak dirinya maupun umat. Akan tetapi, pun sudah menjadi sosok al amin di masyarakat kota mekkah. Nabi Muhammad tidak serta merta mudah dalam melakukan dakwah Islam. Penolakan pun sangat banyak, yang hingga memaksa beliau memindahkan basis dakwahnya ke madinah. Dalam surat Al Qalam ayat 3 dan 4 pun Allah menyampaikan firmannya tentang keindahan teladan Rasulullah :
Allah menyiapkan Rasul terakhirnya untuk bisa di jadikan teladan ekstrem , atau teladan dengan sebaik-baiknya teladan. Dijauhkan dari segala hal yang bisa merusak dirinya maupun umat. Akan tetapi, pun sudah menjadi sosok al amin di masyarakat kota mekkah. Nabi Muhammad tidak serta merta mudah dalam melakukan dakwah Islam. Penolakan pun sangat banyak, yang hingga memaksa beliau memindahkan basis dakwahnya ke madinah. Dalam surat Al Qalam ayat 3 dan 4 pun Allah menyampaikan firmannya tentang keindahan teladan Rasulullah :
"Dan sesungguhnya bagi kamu (Muhammad) benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.
Dakwah bil hikmah juga bisa diartikan sebagai dakwah dengan keteladanan. Dengan konsep sederhana, yakni menjadi yang terbaik di bidang yang menjadi perhatian di komunitas kita berdakwah. Sebutlah untuk dakwah di lingkungan pengusaha, alangkah baiknya kita bisa terlebih dahulu menjadi pengusaha yang sukses baru bisa dengan mudah berdakwah dengan sesama pengusaha, untuk berdakwah di kalangan atlet, maka dituntut untuk terlebih dahulu kita berprestasi barulah kita dengan mudah berdakwah.
Dalam konteks dakwah kampus, maka salah satu kebutuhan keteladanan adalah dengan menjadi yang terbaik di bidang akademik. Menjadi seorang aktifis dakwah kampus yang berprestatif. Menyiapkan sebanyak-banyaknya aktifis dakwah kampus yang terancam cum laude. Dan dengan kapasitas akademik yang baik, maka ia telah menjadi teladan di kelas, atau di jurusan dan itu akan sangat memudahkan ia untuk melakukan aktifitas dakwah.
Kekuatan keteladanan ini seringkali di lupakan oleh para aktifis dakwah, karena mungkin terlalu nyaman dengan aktifitas di dunia lembaga dakwah. Sehingga ia seringkali tidak banyak interaksi di kelas, nilai tidak layak, dan kehadirannya tidak di rasakan oleh teman di jurusan, angkatan atau bahkan kelas. Seringkali saya amati, aktifis dakwah lebih nyaman melakukan rapat yang sangat sering dan jauh dari objek dakwah, ketimbang masuk dalam lingkaran pergaulan objek dakwah dan menjadi teladan serta mengubah nuansa keIslaman di lingkungan tersebut.
Perlu dipahami oleh seluruh aktifis dakwah, bahwa ketika seseorang telah mendedikasikan dirinya sebagai aktifis dakwah kampus, maka hukum majas sinekdoke pars prototo berlaku pada dirinya. Ketika ia baik, maka citra dakwah kampus akan baik, dan ketika ia buruk, maka akan berdampak pada turunnya citra dakwah kampus bahkan Islam itu sendiri. Tinggal bagaimana kita mau memilih, apakah akan menjadikan diri kita sebagai representatif Islam di kampus atau tidak.
Dengan kekuatan keteladanan ini , objek dakwah akan percaya sama seorang aktifis dakwah dan lembaga dakwah, dan dengan modal kepercayaan ini, lembaga dakwah melalui para kadernya akan lebih mudah pula menyampaikan nilai-nilai Islam. Karena jika kita tidak bisa memberikan keteladanan yang baik, maka objek dakwah pun akan menjadi ragu untuk mengikuti ajakan dan pesan Islam yang disampaikan.
Kita perlu realistis saja, bagaimana mungkin seorang objek dakwah percaya pada sosok aktifis dakwah jika ia datang ke kelas selalu telat, di kelas tidur dan tidak pernah mencatat, setelah kuliah langsung menghilang dan berakibat pada buruknya nilai yang dimiliki. Jika itu menghinggapi mayoritas aktifis dakwah, maka citra lembaga dakwah akan menjadi tempat berkumpulnya para mahasiswa dan mahasiswi yang sudah hopeless dengan nilai dan masa depannya, maka dengan itu mereka mentawakalkan dirinya kepada Allah.
Akan tetapi jika mayoritas aktifis dakwah adalah seseorang yang rajin kuliah, mencatat di kelas, aktif bertanya dan berdiskusi, catatannya sering dipinjam oleh mahasiswa lain dan berdampak pada nilainya yang memuaskan. Maka citra lembaga dakwah akan menjadi tempat berkumpulnya mahasiswa dan mahasiswa yang baik secara akademik, dan mereka memasuki lembaga dakwah karena ingin mensyukuri nikmat yang Allah berikan.
Silahkan di tentukan oleh masing-masing lembaga dakwah, akan seperti apa citra dakwah Islam di kampus tempat kita beraktifitas. Dengan kekuatan keteladanan ini, pergerakan dakwah faridiyah secara masif dan dengan variasi metode bisa lebih dikembangkan. Kekuatan dakwah fardiyah dengan keteladanan adalah modal besar untuk membangun basis kader dakwah yang solid dan militan.
Dakwah bil hikmah juga bisa diartikan sebagai dakwah dengan keteladanan. Dengan konsep sederhana, yakni menjadi yang terbaik di bidang yang menjadi perhatian di komunitas kita berdakwah. Sebutlah untuk dakwah di lingkungan pengusaha, alangkah baiknya kita bisa terlebih dahulu menjadi pengusaha yang sukses baru bisa dengan mudah berdakwah dengan sesama pengusaha, untuk berdakwah di kalangan atlet, maka dituntut untuk terlebih dahulu kita berprestasi barulah kita dengan mudah berdakwah.
Dalam konteks dakwah kampus, maka salah satu kebutuhan keteladanan adalah dengan menjadi yang terbaik di bidang akademik. Menjadi seorang aktifis dakwah kampus yang berprestatif. Menyiapkan sebanyak-banyaknya aktifis dakwah kampus yang terancam cum laude. Dan dengan kapasitas akademik yang baik, maka ia telah menjadi teladan di kelas, atau di jurusan dan itu akan sangat memudahkan ia untuk melakukan aktifitas dakwah.
Kekuatan keteladanan ini seringkali di lupakan oleh para aktifis dakwah, karena mungkin terlalu nyaman dengan aktifitas di dunia lembaga dakwah. Sehingga ia seringkali tidak banyak interaksi di kelas, nilai tidak layak, dan kehadirannya tidak di rasakan oleh teman di jurusan, angkatan atau bahkan kelas. Seringkali saya amati, aktifis dakwah lebih nyaman melakukan rapat yang sangat sering dan jauh dari objek dakwah, ketimbang masuk dalam lingkaran pergaulan objek dakwah dan menjadi teladan serta mengubah nuansa keIslaman di lingkungan tersebut.
Perlu dipahami oleh seluruh aktifis dakwah, bahwa ketika seseorang telah mendedikasikan dirinya sebagai aktifis dakwah kampus, maka hukum majas sinekdoke pars prototo berlaku pada dirinya. Ketika ia baik, maka citra dakwah kampus akan baik, dan ketika ia buruk, maka akan berdampak pada turunnya citra dakwah kampus bahkan Islam itu sendiri. Tinggal bagaimana kita mau memilih, apakah akan menjadikan diri kita sebagai representatif Islam di kampus atau tidak.
Dengan kekuatan keteladanan ini , objek dakwah akan percaya sama seorang aktifis dakwah dan lembaga dakwah, dan dengan modal kepercayaan ini, lembaga dakwah melalui para kadernya akan lebih mudah pula menyampaikan nilai-nilai Islam. Karena jika kita tidak bisa memberikan keteladanan yang baik, maka objek dakwah pun akan menjadi ragu untuk mengikuti ajakan dan pesan Islam yang disampaikan.
Kita perlu realistis saja, bagaimana mungkin seorang objek dakwah percaya pada sosok aktifis dakwah jika ia datang ke kelas selalu telat, di kelas tidur dan tidak pernah mencatat, setelah kuliah langsung menghilang dan berakibat pada buruknya nilai yang dimiliki. Jika itu menghinggapi mayoritas aktifis dakwah, maka citra lembaga dakwah akan menjadi tempat berkumpulnya para mahasiswa dan mahasiswi yang sudah hopeless dengan nilai dan masa depannya, maka dengan itu mereka mentawakalkan dirinya kepada Allah.
Akan tetapi jika mayoritas aktifis dakwah adalah seseorang yang rajin kuliah, mencatat di kelas, aktif bertanya dan berdiskusi, catatannya sering dipinjam oleh mahasiswa lain dan berdampak pada nilainya yang memuaskan. Maka citra lembaga dakwah akan menjadi tempat berkumpulnya mahasiswa dan mahasiswa yang baik secara akademik, dan mereka memasuki lembaga dakwah karena ingin mensyukuri nikmat yang Allah berikan.
Silahkan di tentukan oleh masing-masing lembaga dakwah, akan seperti apa citra dakwah Islam di kampus tempat kita beraktifitas. Dengan kekuatan keteladanan ini, pergerakan dakwah faridiyah secara masif dan dengan variasi metode bisa lebih dikembangkan. Kekuatan dakwah fardiyah dengan keteladanan adalah modal besar untuk membangun basis kader dakwah yang solid dan militan.
From : Ridwansyah Yusuf Ahmad, Keluarga Mahasiswa Islam (GAMAIS) ITB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar